Sabtu, 13 Februari 2016

Cerpen bertema Cinta Genre Komedi



Gagunya Cintaku
Oleh : Selvy Arianti

Menjadi perantau biasanya yang diragukan adalah kenyamanan karena akan tinggal ditanah orang lain, bukan tanah nenek moyangmu ataupun nyak-babehmu. Bukan,bukan begitu maksudnya, ada pepatah yang mematahkan “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”… sehingga dimana pun berada harus menjaga kesopanan, kenyamanan masyarakat lokal daerah tersebut.‘Akhhhhhh itu sudah biasa Amar dengar dikampungnya… sebab ia adalah anak laki-laki pengembara mencari udang di sungai, bukan mencari kitab suci seperti kisah Sung Go Kong.
Amar perantau laki-laki berasal dari Sumatera Selatan. Kab. Baturaja desa Ulak Pandan dengan beraninya menjajaki kaki di ranah Ibukota Jakarta bersama beberapa temannya yang senasib di desanya itu. Mereka tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi seperti sekolah di gedung bertingkat 10, “akhhhhhh bukan itu maksudku,”… ke jenjang Perguruan Tinggi. Diantara mereka ada yang hanya lulusan SMP ataupun SMU.
Sebelumnya Amar tidak diberikan izin untuk merantau jauh seperti itu oleh abah dan umak (Ibu-Bapaknya) sebab ia diperintahkan untuk bekerja membantu kedua orang tuanya dikebun ataupun menyadap (mengumpulkan) getah karet dari pohon satu ke pohon lainnya.
Karena sudah bosan dengan pekerjaan itu dan dianggap tak mempunyai perkembangan apapun sebagai pria yang sehat dan gagah akhirnya Amar memberanikan diri merantau tanpa meminta uang selembar pun dari kedua orang tuanya. Berbeda dengan teman yang lain yang diebrikan doa serta perbekalan.
Namun dengan begitu bukan berarti orang tua Amar marah, sebab disuatu hari akan ada yang berubah seperti Power Rangers ‘berubahhhhhh… akan ada masanya yang buruk akan menjadi baik dan yang baik menjadi lebih baik. “prokprokprok”… terkadang teman-temannya Amar salut dengan sahabatnya itu sebab ia mampu berpikir kritis disaat situasi krisis uang ataupun kepercayaan. Seperti LDR, “Laki-laki dengan rahasianya”… rahasia sifat Amar.
Panjang cerita yang Amar dapatkan semasa kecil di desa Ulak Pandan dan kini ia harus mengadu nasib kepada rumput yang bergoyang, ‘akhhhhhh lagi-lagi kau salah paham. Berangkat ke Jakarta dengan harapan masa depan yang cerah tentunya.
***
Sesampainya Amar bersama temannya di Ibukota membuat hati berdetak-detak dikarenakan kagum melihat bangunan sangat kokoh menjulang tinggi, memang ini adalah pengalaman pertamanya merantau. Tanpa berpikir keras seperti kerasnya salju meriam akhirnya sekelompok pria tampan perantauan bergegas mencari kontrakan yang mampu menampung kehidupan mereka semua.
“Tuk tik tak tik tuk.”… suara langkah kaki mereka membangunkan Kong Ali yang asik membaca koran di teras rumahnya, “Eh eh eh, kenape lo semue berisik bener, kage liat Kong lagi asik baca koran? Ganggu aje lo pada ya.”… sahut Kong Ali dengan tatapan romantis.
“Assalamualaikum, begini Kong izinkan kami memperkenalkan diri, aku Amar dan ini semua temanku.”… ujar Amar penuh harap.
“Wa’alaikumssalam terus kenape kalo lo namanye Amar?”… ucapan Kong membuat bumi bergetar seperti irama melodi.
“Amar dan teman semuanya adalah perantau Kong, sedang mencari kontrakan yang mampu menampung kami ber5.”… penjelasan Amar tanpa basa-basi.
“Begini anak muda semuanya, Kong punya kontrakan 5 ruang yang berjajar rapih akan tetapi dimohon kalo lo semua jangan buat keributan soalnye gue liat muka-muka lo pada anak alim akhirnya gue percaya dah same lo semua, pegang nih konci kontrakan no lime, biaya per-bulannye cukup 400 aje ye itu udeh termasuk murah!”… jelasnya ucapan Kong dengan senyuman yang khas.
“Siap, siap Kong!”… kita bakal jaga kepercayaan Kong, makasih makasih makasih. Rudi menyalami tangan Kong yang beraroma jengkol khas Ibukota.
“Iye dah lo semua istirahat sono, gue liat pade kecapean bener, gue masuk ye udah siang di teras panas. Wassalamualaikum.”
“Wa’alaikumsallam, Kong.”
***
            Bahagianya mereka setelah perjalanan jauh dan mendapatkan bangunan yang cocok untuk ditempati, belum sempat beristirahat lantas dikejutkan dengan kawanan semut merah yang berada disekitaran dinding putih.
“Akhhh, semut itu mirip dengan kita, perjalanan mereka jauh namun tetap semangat mengantri dibarisannya masing-masing.”… ucapan Joni menciptakan semangat 45.
Mereka semua membereskan tumpukkan barang yang Kong simpan di kontrakan nomor 5. Belum sempat menyelesaikan tugasnya sebagai penghuni baru di kontrakan nomor 5, terlihatlah seorang perempuan cantik berjilbab yang terlihat seperti seorang guru karena ia membawa tumpukkan buku dan menggunakan kacamata putih.
“Assalamualaikum, perkenalkan kami dari Palembang tetangga barunya nona.”… Jaka antusias memperkenalkan dirinya dan kawan-kawan.
“Wa’alaikumsallam, maaf kak saya bukan tetangga kalian. Ini adalah tempat les Lala, Kong Ali adalah suami Lala.”
Byuurrrr, bagai air got yang tumpah mengguyuri Jaka. Ia tersendak oleh harapan kosong yang melayang-layang di udara kerinduan dirinya akan seorang pasangan hidup.
“Hmmmm, Kong Ali suaminya Lala. Maaf ya kalau kita sudah menganggu waktunya nona cantik.” Ucapan Amar meyakinkan.
“Iya, nggak apa-apa, santai aja kalo sama Lala, udah dulu ya mau nyiapin makan buat suami. Salam kenal, semoga betah di sini”… lagi-lagi Lala memperlihatkan wajah manisnya.
Harapan Jaka hancur beremping-emping rasanya pahit namun disukai banyak orang. Itulah yang disebut cinta bertepuk sebelah tangan, banyak kisah lainnya mengenai cinta namun tak sepahit cinta bertepuk sebelah tangan.
***
Lima tahun berlalu, kini hidup mereka bukanlah beratapkan kontarakan seperti pertama kali datang merantau. Amar, Rudi dan Jaka menjadi manager di beberapa perusahaan konveksi sedangkan Lono dan Jono membuka usaha berjualan empek-empek kapal selam yang biasa disebut oleh warga sekitar sebagai “Lono-Jono nyelam.”
Mereka perantau yang sukses namun tak pernah melupakan desa kesayangan, dengan segala pengetahuan yang didapatkan membuat kelima pemuda tersebut dibanggakan oleh orang tuanya masing-masing.
                                                         *SELESAI*

 Sekilas tentangku

"Selvy Arianti adalah anak perantauan, lahir di Jakarta. Mempunyai orang tua yang asli merantau dari Pulau Sumatera Selatan. Pernah memenangkan juara 2 lomba cipta puisi yang diselenggarakan di kampusnya oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Sedang memperjuangkan studinya di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam."


Kamis, 11 Februari 2016

Passion

Banyak yang sibuk bertanya tentang masa depan,
tetapi tidak memberi tindakan.
Ada sebagian yang mengeluh,
namun dilain sisi juga bersemangat.

Itulah kehidupan. 
"Kita tak akan terus-menerus bersemangat karena selalu ada titik jenuh yang mengiringi."