Gagunya Cintaku
Oleh : Selvy Arianti
Menjadi
perantau biasanya yang diragukan adalah kenyamanan karena akan tinggal ditanah
orang lain, bukan tanah nenek moyangmu ataupun nyak-babehmu. Bukan,bukan begitu
maksudnya, ada pepatah yang mematahkan “Dimana bumi dipijak disitu langit
dijunjung”… sehingga dimana pun berada harus menjaga kesopanan, kenyamanan
masyarakat lokal daerah tersebut.‘Akhhhhhh itu sudah biasa Amar dengar
dikampungnya… sebab ia adalah anak laki-laki pengembara mencari udang di sungai,
bukan mencari kitab suci seperti kisah Sung Go Kong.
Amar
perantau laki-laki berasal dari Sumatera Selatan. Kab. Baturaja desa Ulak
Pandan dengan beraninya menjajaki kaki di ranah Ibukota Jakarta bersama
beberapa temannya yang senasib di desanya itu. Mereka tidak dapat melanjutkan
sekolah ke jenjang yang lebih tinggi seperti sekolah di gedung bertingkat 10,
“akhhhhhh bukan itu maksudku,”… ke jenjang Perguruan Tinggi. Diantara mereka
ada yang hanya lulusan SMP ataupun SMU.
Sebelumnya
Amar tidak diberikan izin untuk merantau jauh seperti itu oleh abah dan umak
(Ibu-Bapaknya) sebab ia diperintahkan untuk bekerja membantu kedua orang tuanya
dikebun ataupun menyadap (mengumpulkan) getah karet dari pohon satu ke pohon
lainnya.
Karena
sudah bosan dengan pekerjaan itu dan dianggap tak mempunyai perkembangan apapun
sebagai pria yang sehat dan gagah akhirnya Amar memberanikan diri merantau
tanpa meminta uang selembar pun dari kedua orang tuanya. Berbeda dengan teman
yang lain yang diebrikan doa serta perbekalan.
Namun
dengan begitu bukan berarti orang tua Amar marah, sebab disuatu hari akan ada
yang berubah seperti Power Rangers ‘berubahhhhhh… akan ada masanya yang buruk
akan menjadi baik dan yang baik menjadi lebih baik. “prokprokprok”… terkadang
teman-temannya Amar salut dengan sahabatnya itu sebab ia mampu berpikir kritis
disaat situasi krisis uang ataupun kepercayaan. Seperti LDR, “Laki-laki dengan
rahasianya”… rahasia sifat Amar.
Panjang
cerita yang Amar dapatkan semasa kecil di desa Ulak Pandan dan kini ia harus
mengadu nasib kepada rumput yang bergoyang, ‘akhhhhhh lagi-lagi kau salah
paham. Berangkat ke Jakarta dengan harapan masa depan yang cerah tentunya.
***
Sesampainya
Amar bersama temannya di Ibukota membuat hati berdetak-detak dikarenakan kagum
melihat bangunan sangat kokoh menjulang tinggi, memang ini adalah pengalaman
pertamanya merantau. Tanpa berpikir keras seperti kerasnya salju meriam
akhirnya sekelompok pria tampan perantauan bergegas mencari kontrakan yang
mampu menampung kehidupan mereka semua.
“Tuk
tik tak tik tuk.”… suara langkah kaki mereka membangunkan Kong Ali yang asik
membaca koran di teras rumahnya, “Eh eh eh, kenape lo semue berisik bener, kage
liat Kong lagi asik baca koran? Ganggu aje lo pada ya.”… sahut Kong Ali dengan
tatapan romantis.
“Assalamualaikum,
begini Kong izinkan kami memperkenalkan diri, aku Amar dan ini semua temanku.”…
ujar Amar penuh harap.
“Wa’alaikumssalam
terus kenape kalo lo namanye Amar?”… ucapan Kong membuat bumi bergetar seperti
irama melodi.
“Amar
dan teman semuanya adalah perantau Kong, sedang mencari kontrakan yang mampu
menampung kami ber5.”… penjelasan Amar tanpa basa-basi.
“Begini
anak muda semuanya, Kong punya kontrakan 5 ruang yang berjajar rapih akan
tetapi dimohon kalo lo semua jangan buat keributan soalnye gue liat muka-muka
lo pada anak alim akhirnya gue percaya dah same lo semua, pegang nih konci
kontrakan no lime, biaya per-bulannye cukup 400 aje ye itu udeh termasuk
murah!”… jelasnya ucapan Kong dengan senyuman yang khas.
“Siap,
siap Kong!”… kita bakal jaga kepercayaan Kong, makasih makasih makasih. Rudi
menyalami tangan Kong yang beraroma jengkol khas Ibukota.
“Iye
dah lo semua istirahat sono, gue liat pade kecapean bener, gue masuk ye udah
siang di teras panas. Wassalamualaikum.”
“Wa’alaikumsallam,
Kong.”
***
Bahagianya mereka setelah perjalanan jauh dan mendapatkan bangunan yang cocok untuk ditempati, belum sempat beristirahat lantas dikejutkan dengan kawanan semut merah yang berada disekitaran dinding putih.
Bahagianya mereka setelah perjalanan jauh dan mendapatkan bangunan yang cocok untuk ditempati, belum sempat beristirahat lantas dikejutkan dengan kawanan semut merah yang berada disekitaran dinding putih.
“Akhhh,
semut itu mirip dengan kita, perjalanan mereka jauh namun tetap semangat
mengantri dibarisannya masing-masing.”… ucapan Joni menciptakan semangat 45.
Mereka
semua membereskan tumpukkan barang yang Kong simpan di kontrakan nomor 5. Belum
sempat menyelesaikan tugasnya sebagai penghuni baru di kontrakan nomor 5, terlihatlah
seorang perempuan cantik berjilbab yang terlihat seperti seorang guru karena ia
membawa tumpukkan buku dan menggunakan kacamata putih.
“Assalamualaikum,
perkenalkan kami dari Palembang tetangga barunya nona.”… Jaka antusias memperkenalkan
dirinya dan kawan-kawan.
“Wa’alaikumsallam,
maaf kak saya bukan tetangga kalian. Ini adalah tempat les Lala, Kong Ali adalah
suami Lala.”
Byuurrrr,
bagai air got yang tumpah mengguyuri Jaka. Ia tersendak oleh harapan kosong
yang melayang-layang di udara kerinduan dirinya akan seorang pasangan hidup.
“Hmmmm,
Kong Ali suaminya Lala. Maaf ya kalau kita sudah menganggu waktunya nona
cantik.” Ucapan Amar meyakinkan.
“Iya,
nggak apa-apa, santai aja kalo sama Lala, udah dulu ya mau nyiapin makan buat
suami. Salam kenal, semoga betah di sini”… lagi-lagi Lala memperlihatkan wajah
manisnya.
Harapan
Jaka hancur beremping-emping rasanya pahit namun disukai banyak orang. Itulah
yang disebut cinta bertepuk sebelah tangan, banyak kisah lainnya mengenai cinta
namun tak sepahit cinta bertepuk sebelah tangan.
***
Lima
tahun berlalu, kini hidup mereka bukanlah beratapkan kontarakan seperti pertama
kali datang merantau. Amar, Rudi dan Jaka menjadi manager di beberapa
perusahaan konveksi sedangkan Lono dan Jono membuka usaha berjualan empek-empek
kapal selam yang biasa disebut oleh warga sekitar sebagai “Lono-Jono nyelam.”
Mereka
perantau yang sukses namun tak pernah melupakan desa kesayangan, dengan segala
pengetahuan yang didapatkan membuat kelima pemuda tersebut dibanggakan oleh
orang tuanya masing-masing.
*SELESAI*
Sekilas tentangku
"Selvy Arianti adalah anak perantauan, lahir di Jakarta. Mempunyai orang tua yang asli merantau dari Pulau Sumatera Selatan. Pernah memenangkan juara 2 lomba cipta puisi yang diselenggarakan di kampusnya oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Sedang memperjuangkan studinya di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar